Di antara riuh anak-anak yang berlari dan bermain, ada satu sosok yang perlahan belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar membuang sampah pada tempatnya. Baginya, lingkungan adalah rumah besar yang harus dirawat bersama. Di antara lumpur, air payau, dan akar-akar mangrove yang tumbuh perlahan, seorang remaja memilih untuk hadir. Tangannya kotor oleh tanah. Kakinya sesekali harus terbenam lumpur. Tetapi dari tempat itulah, sebuah perjuangan untuk menjaga lingkungan tumbuh. Sosok itu adalah Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto.
Harley adalah siswa SMP Negeri 1 Surabaya yang sejak usia muda menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Perhatiannya bermula dari kegelisahan melihat berbagai pemberitaan tentang kerusakan lingkungan, penebangan liar, serta ancaman terhadap kawasan pesisir Indonesia. Dari rasa ingin tahu tersebut, tumbuh kesadaran bahwa mangrove bukan sekadar tanaman di tepi pantai, melainkan bagian penting dari benteng alami yang membantu melindungi pesisir dari abrasi, gelombang besar, dan banjir.
Dari Rasa Peduli Menjadi Gerakan
Kepedulian Harley tidak berhenti pada rasa prihatin. Pada pertengahan 2025, ia menginisiasi sebuah gerakan bernama Mangrove Warrior yang menjadi ruang baginya untuk belajar sekaligus mengajak lebih banyak pihak terlibat dalam konservasi mangrove. Ia tidak sekadar datang untuk menanam. Harley mempelajari kondisi pesisir, pasang surut air, karakter tanah, hingga teknik pembibitan mangrove bersama petani tambak di Wonorejo. Gerakannya juga melibatkan komunitas lokal dan lingkungan sekolah di SMP Negeri 1 Surabaya.
Pada usia 13 tahun, Harley telah membudidayakan lebih dari 18.200 mangrove. Setahun kemudian, konsistensinya terus berlanjut hingga jumlah yang ditanam mencapai sekitar 38.000 bibit mangrove dalam kurun 1,5 tahun—menurut pemberitaan Jawa Pos dan sejumlah media pada Agustus 2026. Angka itu bukan sekadar deretan angka. Di baliknya, ada waktu yang diluangkan, lumpur yang diinjak, bibit yang dirawat, dan kesabaran untuk menunggu sesuatu yang ditanam hari ini tumbuh menjadi pelindung bagi masa depan.
Belajar dari Pesisir
Perjalanan Harley juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas; pesisir menjadi laboratoriumnya, mangrove menjadi bahan belajarnya, dan masyarakat menjadi bagian dari gurunya. Melalui Mangrove Warrior, Harley mengembangkan pembibitan dan penanaman beberapa jenis mangrove yang disesuaikan dengan karakter lingkungan. Gerakannya juga berkembang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dan dilakukan di sejumlah kawasan, termasuk Wonorejo, Gunung Anyar, dan Keputih. Baginya, menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu hari. Menanam bibit hanyalah awal. Tantangan berikutnya adalah merawat dan memastikan tanaman tersebut dapat tumbuh. Dari sana terlihat satu pelajaran penting: kepedulian yang dilakukan secara konsisten dapat berubah menjadi gerakan.
Dari Surabaya ke Panggung Dunia
Perjalanan panjang itu kemudian membawanya ke panggung internasional. Pada 2026, Harley berhasil meraih First Place atau Juara 1 International Young Eco-Hero Award kategori usia 8–14 tahun. Penghargaan tersebut diberikan oleh Action For Nature, sebuah organisasi nirlaba yang memberikan apresiasi kepada anak dan remaja yang melakukan aksi nyata untuk lingkungan. Pada tahun tersebut, terdapat 476 peserta dari 49 negara dan 25 negara bagian Amerika Serikat, sementara hanya 16 anak dan remaja yang terpilih sebagai penerima penghargaan. Prestasi itu menjadi sebuah titik penting dalam perjalanan Harley. Namun, penghargaan bukanlah akhir dari ceritanya. Justru, pencapaian tersebut menjadi pengingat bahwa apa yang dilakukan seorang anak muda di pesisir Surabaya dapat memiliki makna yang lebih luas.
Menanam Hari Ini untuk Masa Depan
Kisah Harley bukan hanya tentang ribuan atau puluhan ribu bibit mangrove. Ini adalah kisah tentang seorang anak muda yang memilih untuk tidak hanya melihat persoalan, tetapi mencoba mengambil bagian dalam penyelesaiannya. Ia mengubah rasa ingin tahu menjadi pengetahuan; mengubah keresahan menjadi tindakan; mengubah tindakan menjadi Gerakan; dan mengubah gerakan menjadi inspirasi bagi orang lain. Di pesisir Surabaya, Harley mungkin hanya menanam satu bibit pada satu waktu, tetapi setiap bibit menyimpan harapan: tentang pesisir yang lebih terlindungi, lingkungan yang lebih lestari, dan generasi muda yang berani mengambil peran. Sebab, perubahan besar memang tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari tangan kecil yang menanam satu bibit mangrove. Dan Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto telah menunjukkan bahwa ketika kepedulian dirawat dengan konsistensi, sebuah bibit dapat tumbuh menjadi gerakan—bahkan membawa nama Surabaya dan Indonesia hingga ke panggung dunia. Mimpi besarnya adalah menjadikan setiap aksi lingkungannya sebagai warisan hidup yang menyalakan kesadaran bahwa merawat bumi adalah panggilan semua generasi.