AL ASHR
Kembali ke Direktori
Cakrawala Flora & Fauna

Mengapa Tikus Hidup di Tempat yang Kotor?

Sep-Okt 2026 (Edisi 02)

Lamirza Hanim, S.Pd. (Guru Kelas 3B)

Terbit: 10 Okt 2026 โ€ข 134 tayangan

Mengapa Tikus Hidup di Tempat yang Kotor?
Tikus sering dianggap sebagai hewan yang identik dengan tempat kotor, seperti selokan, tempat sampah, gudang, pasar, dan saluran pembuangan. Kehadirannya membuat manusia merasa jijik dan khawatir karena tikus dapat merusak makanan, benda, serta membawa berbagai penyakit. Namun, secara ilmiah, tikus tidak selalu hidup di tempat kotor karena menyukai kotoran. Tikus memilih tempat yang menyediakan tiga kebutuhan utama, yaitu makanan, air, dan tempat berlindung. Lingkungan yang kotor biasanya memiliki ketiga hal tersebut sehingga menjadi tempat yang sesuai bagi kehidupan tikus.
Dari sudut pandang Islam, persoalan tikus juga dapat menjadi pelajaran penting tentang kebersihan, kesehatan, tanggung jawab manusia terhadap lingkungan, serta larangan membuat kerusakan di bumi.
 
1.      Tikus dan Kemampuan Beradaptasi
Tikus merupakan hewan mamalia yang memiliki kemampuan beradaptasi sangat baik. Tubuhnya relatif kecil, giginya terus tumbuh, dan penciumannya tajam. Tikus juga mampu menyelinap melalui celah yang sempit, mencari makanan pada malam hari, serta berkembang biak dengan cepat.
Tikus dapat hidup di berbagai lingkungan, seperti sawah dan ladang, gudang makanan, pasar, rumah, saluran air, tempat pembuangan sampah, selokan dan pemukiman. Jadi, tikus bukan hanya hidup di tempat kotor. Tikus juga dapat hidup di tempat yang bersih apabila di sana tersedia makanan, air, dan tempat berlindung. Kesimpulannya, tikus tidak memilih kotoran, tetapi memilih lingkungan yang mendukung kelangsungan hidupnya.
 
2.      Tempat yang Kotor Menarik bagi Tikus
a.       Tersedia Banyak Makanan
Sampah rumah tangga sering mengandung sisa nasi, roti, buah, sayuran, lauk, dan makanan lainnya. Bagi tikus, sisa makanan tersebut merupakan sumber energi. Makanan yang dibiarkan terbuka, tempat sampah yang tidak tertutup, serta bahan makanan yang disimpan sembarangan akan memudahkan tikus memperoleh makanan.
b.      Tersedia Air
Tikus membutuhkan air untuk bertahan hidup. Lingkungan kotor sering memiliki genangan air, saluran bocor, selokan, atau tempat penampungan air yang tidak terawat. Air yang tersedia membuat tikus dapat tinggal lebih lama di suatu tempat.
c.       Tersedia Tempat Berlindung
Tumpukan kardus, kayu, barang bekas, semak-semak, lubang dinding, dan saluran air dapat menjadi tempat persembunyian tikus. Tempat-tempat tersebut melindungi tikus dari panas, hujan, manusia, dan pemangsa.
d.      Banyak Celah untuk Masuk
Tikus dapat masuk melalui celah yang sangat kecil: lubang pada dinding, pintu yang tidak rapat, saluran pembuangan, dan atap rusak yang dapat menjadi jalan masuk tikus ke rumah. Oleh sebab itu, pengendalian tikus tidak cukup hanya dengan menangkap atau mengusirnya. Kita juga perlu menutup jalan masuk dan menghilangkan sumber makanan serta airnya.
 
3.      Tikus dan Risiko Penyakit
Tikus dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Penyakit dapat menyebar melalui urine, kotoran, air liur, gigitan, atau makanan yang telah tercemar. Salah satu penyakit yang berkaitan dengan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan yang terinfeksi. Risiko leptospirosis dapat meningkat ketika terjadi banjir, genangan air, buruknya system sanitasi, penumpukan sampah, dan kontak dengan lumpur atau air yang tercemar.
Karena itu, kita harus berhati-hati ketika membersihkan tempat yang mungkin tercemar tikus. Kotoran tikus tidak sebaiknya disapu atau disedot secara kering karena debu yang tercemar dapat menyebar ke udara. Area tersebut perlu dibersihkan dengan cara yang aman dan menggunakan alat pelindung yang sesuai. Menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya untuk menghilangkan bau atau pemandangan yang tidak menyenangkan, tetapi juga untuk melindungi kesehatan manusia.
 
4.      Kebersihan dalam Pandangan Islam
Islam sangat memperhatikan kebersihan. Kebersihan bukan hanya berkaitan dengan tubuh dan pakaian, tetapi juga rumah, tempat ibadah, lingkungan, serta sumber makanan dan air. Allah Swt. berfirman:
ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ุชู‘ูŽูˆู‘ูŽุงุจููŠู†ูŽ ูˆูŽูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูุชูŽุทูŽู‡ู‘ูุฑููŠู†ูŽ
Artinya:
โ€œSesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diriโ€. (QS. Al-Baqarah: 222)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan kesucian merupakan perbuatan yang dicintai Allah Swt. Rasulullah saw. juga bersabda:
ุงู„ุทู‘ูู‡ููˆุฑู ุดูŽุทู’ุฑู ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู
Artinya:
โ€œBersuci itu sebagian dari imanโ€. (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kebersihan dan kesucian memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kebersihan tidak cukup hanya dilakukan ketika rumah akan kedatangan tamu. Kebersihan harus menjadi kebiasaan sehari-hari, termasuk membuang sampah pada tempatnya, menyimpan makanan dengan baik, membersihkan saluran air, dan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya hewan pembawa penyakit.
 
5.      Larangan Membuat Kerusakan di Bumi
Allah Swt. berfirman:
ูˆูŽู„ูŽุง ุชููู’ุณูุฏููˆุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุตู’ู„ูŽุงุญูู‡ูŽุง
Artinya:
โ€œDan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaikiโ€. 
(QS. Al-Aโ€˜raf: 56)
Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran air, menyebabkan banjir, menimbulkan bau, dan menarik perhatian tikus. Dengan demikian, kebiasaan membuang sampah sembarangan bukan hanya merugikan manusia, tetapi juga dapat merusak keseimbangan lingkungan.
Manusia diberi amanah oleh Allah Swt. untuk menjaga bumi. Menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui tindakan sederhana, seperti:
a.       membuang sampah pada tempatnya
b.      memilah sampah organik dan anorganik
c.       menutup tempat sampah
d.      menyimpan makanan dalam wadah tertutup
e.       membersihkan selokan secara rutin
f.        menutup lubang atau celah yang dapat menjadi jalan masuk tikus
g.       tidak membuang minyak dan limbah sembarangan
h.      menjaga kebersihan sungai dan saluran air
 
6.      Jangan Membenci Tikus Secara Berlebihan
Tikus memang dapat menjadi hama dan membawa risiko penyakit, namun kita tetap perlu memahami bahwa tikus adalah bagian dari makhluk ciptaan Allah Swt. Tikus memiliki fungsi dalam ekosistem, misalnya menjadi sumber makanan bagi beberapa hewan pemangsa dan berperan dalam rantai makanan.
Islam mengajarkan manusia untuk tidak melakukan tindakan yang sia-sia atau menyiksa hewan tanpa alasan. Apabila tikus mengganggu kesehatan dan keselamatan manusia, pengendalian dapat dilakukan dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab.
Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menyebutkan tikus sebagai salah satu hewan yang membahayakan dalam konteks tertentu, namun hadis tersebut tidak boleh dipahami secara berlebihan bahwa semua tikus harus dibenci atau bahwa seluruh tikus pasti hidup dalam keadaan kotor. Yang perlu dilakukan adalah mengendalikan tikus ketika membahayakan, sekaligus memperbaiki lingkungan agar tidak menarik kedatangannya.
 
7.      Hubungan antara Lingkungan, Tikus, dan Perilaku Manusia
Keberadaan tikus di suatu tempat sering kali berkaitan dengan perilaku manusia. Jika manusia membuang sisa makanan sembarangan, membiarkan sampah menumpuk, dan tidak merawat saluran air, maka lingkungan tersebut menjadi tempat yang ideal bagi tikus. Dengan kata lain, masalah tikus tidak selalu disebabkan oleh tikus itu sendiri. Masalah tersebut juga dapat muncul karena pengelolaan lingkungan yang kurang baik.
Dalam ilmu kesehatan modern dikenal pendekatan One Health, yaitu pemahaman bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berhubungan. Ketika lingkungan tidak sehat, manusia dan hewan dapat sama-sama menghadapi risiko penyakit. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu bentuk pencegahan penyakit yang sangat penting.
 
8.   Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari pembahasan tentang tikus, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.
Pertama, setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan untuk bertahan hidup. Tikus mencari makanan, air, dan tempat berlindung sebagaimana makhluk hidup lainnya.
Kedua, lingkungan yang kotor dapat menimbulkan berbagai masalah. Sampah tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga dapat menjadi sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya hama.
Ketiga, kebersihan merupakan bagian dari ajaran Islam. Menjaga kebersihan berarti melaksanakan nilai agama sekaligus menjaga kesehatan.
Keempat, manusia memiliki tanggung jawab terhadap bumi. Allah Swt. memberikan bumi untuk dimanfaatkan, bukan untuk dirusak.
Kelima, mencegah lebih baik daripada mengobati. Menutup tempat sampah, menyimpan makanan dengan baik, membersihkan selokan, dan menutup lubang tikus lebih efektif daripada hanya mengusir tikus setelah jumlahnya semakin banyak.
9.   Tikus dan Tanggung Jawab Kita sebagai Muslim
Masalah tikus sebenarnya dapat menjadi cermin perilaku manusia. Ketika manusia tidak menjaga kebersihan, lingkungan menjadi tidak sehat dan hama lebih mudah datang. Sebaliknya, ketika manusia menjaga kebersihan, mengelola sampah, dan merawat saluran air, risiko munculnya tikus dapat dikurangi.Kebersihan bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Menjaga lingkungan berarti menjaga kesehatan, melindungi makhluk hidup, dan menjalankan amanah Allah SWT. Semoga pembahasan tentang tikus ini mengajarkan kepada kita bahwa lingkungan yang bersih bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sehat, aman, dan bernilai ibadah.

Baca Dokumen

Silakan klik atau geser untuk membalik halaman.

Unduh