AL ASHR
Kembali ke Direktori
Pena Bersama Utama

Meninggalkan Tepian

Jul-Ags 2026

Erlin Widiana, S.Pd. (Guru Kelas 5B)

Terbit: 07 Agt 2026 • 33 tayangan

Meninggalkan Tepian
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap."
 (QS. Al-Insyirah: 7–8)
 
Suatu ketika, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, datanglah seorang pemuda yang mengadu tentang kehidupannya. Ia berkata bahwa ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik, memiliki ilmu yang luas, rezeki yang berkah, dan amal yang banyak. Namun hari-harinya selalu berlalu dengan rutinitas yang sama. Ia enggan merantau untuk menuntut ilmu, takut memulai usaha karena khawatir rugi, dan malas mengikuti majelis ilmu karena merasa sudah cukup dengan apa yang dimiliki. Umar bin Khattab tidak langsung menasihatinya dengan panjang lebar. Beliau mengajak pemuda itu berjalan hingga tiba di tepi sebuah sungai. Di sana tampak sebuah perahu kecil yang ditambatkan dengan kuat pada sebuah tiang. Umar bertanya, "menurutmu, untuk apa perahu itu dibuat?"
Pemuda itu menjawab, "untuk berlayar menyeberangi sungai."
Umar kembali bertanya, "apakah ia akan sampai ke seberang jika terus diikat di tepian?"
Pemuda itu menggeleng.
Umar pun berkata, "perahu memang aman ketika berada di tepian. Ia tidak dihantam ombak, tidak diterpa angin, dan tidak menghadapi arus. Tetapi perahu tidak diciptakan untuk selamanya berada di tepian. Begitu pula seorang mukmin. Allah tidak menciptakanmu hanya untuk menikmati rasa aman. Allah menciptakanmu agar beramal, berjuang, dan memberi manfaat." Pemuda itu terdiam. Ia menyadari bahwa selama ini bukan keadaan yang menghalanginya, melainkan rasa takut yang ia pelihara sendiri.

Sering kali kita seperti perahu yang tertambat di tepian. Kita memiliki potensi, cita-cita, dan kesempatan yang Allah berikan, tetapi kita enggan melepaskan tali yang mengikat diri. Tali itu bernama rasa takut; takut gagal, takut ditolak, takut kehilangan kenyamanan, takut memulai sesuatu yang baru, dan bahkan takut menghadapi perubahan. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa setelah menyelesaikan satu urusan, kita diperintahkan untuk terus berusaha menyelesaikan urusan yang lain. Seorang muslim tidak diperkenankan larut dalam kemalasan atau berpuas diri. Kehidupan seorang mukmin adalah perjalanan panjang menuju ridha Allah, yang diisi dengan ikhtiar tanpa henti dan tawakal yang sempurna.
Zona nyaman sering kali terasa nikmat. Di dalamnya kita merasa aman karena semuanya sudah dapat diprediksi. Tidak ada tantangan, risiko, dan kegagalan yang harus dihadapi. Namun justru di situlah bahaya tersembunyi. Ketika terlalu lama berada dalam kenyamanan, kemampuan kita perlahan berhenti berkembang, ilmu tidak bertambah, amal tidak meningkat, dan keberanian semakin memudar.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang terus bertumbuh. Rasulullah bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun keduanya memiliki kebaikan. Kekuatan itu bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan iman, ilmu, mental, dan semangat untuk terus memperbaiki diri.
Dalam kehidupan, Allah sering menghadirkan tantangan bukan untuk menyulitkan hamba-Nya, tetapi untuk mengangkat derajatnya. Sebagaimana besi ditempa agar menjadi kuat, demikian pula seorang mukmin dibentuk melalui ujian, pengalaman, dan keberanian mengambil langkah yang benar. Tanpa tantangan, seseorang akan tetap berada di tempat yang sama. Di lingkungan kerja, misalnya, seseorang yang terus belajar akan memperoleh kepercayaan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Dalam dunia pendidikan, seorang pelajar yang berani keluar dari kebiasaan belajar seadanya akan meraih prestasi yang lebih tinggi. Dalam dakwah dan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang berani mengambil peran akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

Maka, jangan biarkan rasa nyaman menghalangi langkah menuju keberkahan! Yakinlah bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Jika kita berani melepaskan "tali" yang selama ini menahan langkah kita, maka Allah akan membuka jalan-jalan kebaikan yang belum pernah kita bayangkan. Marilah kita terus memperbaiki diri, memperbanyak amal, meningkatkan ilmu, dan berani menghadapi tantangan kehidupan dengan penuh tawakal. Sebab seorang mukmin sejati tidak diciptakan untuk diam di tempat, tetapi untuk terus bergerak mendekat kepada Allah hingga akhir hayatnya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berani melangkah dalam kebaikan, tidak terbelenggu oleh rasa takut, dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya. Aamiin.

Baca Dokumen

Silakan klik atau geser untuk membalik halaman.

Unduh