Ada makhluk-makhluk yang dilahirkan tanpa pernah ditanya di mana mereka ingin tinggal. Mereka tumbuh di balik tembok yang lembap, di antara bau tanah dan sisa makanan, di lorong-lorong sempit yang bahkan cahaya enggan singgah. Malam telah tiba dan menjadi waktu dia untuk berjalan, sementara siang adalah tempat dia bersembunyi. Dia mengenal dunia melalui celah-celah kecil, melalui suara langkah yang membuat tubuhnya lekas menghilang, melalui remah-remah yang tersisa dari kehidupan manusia.
Mungkin bagi kita tempat itu adalah sesuatu yang ingin segera kita bersihkan bahkan kita musnahkan. Tetapi bagi seekor makhluk kecil yang kita namai tikus, mungkin di sanalah dunia terasa cukup. Tidak ada yang mewah, tidak ada yang indah, hanya sedikit makanan untuk mengusir lapar dan ruang sempit untuk menyelamatkan tubuhnya yang kecil dari dingin. Ia tidak sedang mencari tempat yang baik. Ia hanya sedang mencari tempat yang memungkinkan dirinya tetap hidup. Ada kesedihan yang ganjil ketika hati ini memikirkannya. Sesuatu yang bagi kita begitu rendah dan bahkan tak layak dihuni, ternyata dapat menjadi satu-satunya tempat yang mampu menerimanya. Dan mungkin kehidupan memang tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, namun hanya tentang menerima ruang yang tersisa, lalu belajar bertahan di dalamnya.
Manusia sering menyebutnya kotor, seolah-olah kotor adalah sifat yang melekat pada makhluk itu. Padahal kotor adalah tempat. Ia hanya tertulis di qodrat-Nya untuk hidup di sana. Tempat seseorang tumbuh tidak selalu bercerita tentang siapa dirinya. Allah tidak meminta kita menyukai segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Tetapi mungkin, melalui makhluk-makhluk kecil yang sering kita abaikan, Allah sedang mengajarkan sesuatu tentang batas diri kita sebagai manusia; bahwa tidak semua yang tidak kita sukai harus kita hina, dan tidak semua yang kita anggap rendah menjadi kehilangan nilainya di hadapan Sang Pencipta. Cukup menyadarkan kita bahwa segala sesuatu memiliki alasan untuk berada di dunia. Mungkin karena itu, ada baiknya kita berhenti sebentar sebelum memberi nama pada sesuatu yang tidak kita pahami. Ada kehidupan yang tampak menjijikkan hanya karena kita melihatnya dari tempat kita berdiri. Jika kita berpindah beberapa langkah, mungkin ceritanya akan berbeda.
Dan akhirnya, yang tersisa bukanlah pertanyaan mengapa ia memilih tempat kotor, melainkan sebuah kesadaran yang lebih sunyi bahwa tidak semua yang hidup dalam terang itu mulia, sedang yang hidup dalam gelap itu hina. Hanya kita belum pernah mengenal tempat itu dan mengapa tempat itu ditinggali. Maka jagalah apa yang kita miliki, termasuk bumi yang menjadi tempat kita singgah. Jangan meninggalkan terlalu banyak sisa hanya karena kita merasa dunia begitu luas untuk mencukupkan kebutuhan kita. Sebab, di sisi lain di tempat yang sedang kita tinggali sekarang, ada kehidupan lain yang menjadikannya rumah. Kita tidak pernah tahu bagaimana dunia terlihat dari mata makhluk lainnya. Mungkin, sedikit kerendahan hati adalah cara paling indah untuk menghormati kehidupan makhluk lain yang Allah titipkan di dalamnya.