AL ASHR
Kembali ke Direktori
Pena Bersama Utama

Tikus dan Pelajaran Penting Menjaga Lingkungan

Sep-Okt 2026 (Edisi 02)

Abu Qosim, S.PdI (Guru PAI dan Waka Keislaman)

Terbit: 09 Okt 2026 • 30 tayangan

Tikus dan Pelajaran Penting Menjaga Lingkungan
Pernahkah kita bertanya, mengapa tikus sering muncul di tempat yang berantakan, kotor, dan penuh sampah? Tikus sebenarnya tidak datang karena menyukai kotoran. Mereka datang karena di balik lingkungan yang tidak terawat tersedia tiga hal yang sangat mereka butuhkan: makanan, minuman, dan tempat berlindung. Seekor tikus yang menemukan sisa makanan di tempat sampah, celah untuk bersembunyi, dan saluran pembuangan akan menganggap tempat tersebut aman untuk bertahan hidup. Dari sinilah kita dapat mengambil sebuah pelajaran sederhana: ketika lingkungan kita tidak terjaga, kita tanpa sadar telah menciptakan tempat yang nyaman bagi berbagai hama.
Kisah tentang tikus bukan hanya tentang kebersihan. Lebih dari itu, ia mengajak kita merenungkan hubungan manusia dengan lingkungan dan tanggung jawab kita sebagai makhluk yang diberi amanah untuk merawat bumi.
 
Tikus Datang karena Ada yang Mereka Butuhkan
Tikus adalah hewan yang mudah beradaptasi. Mereka dapat hidup di berbagai lingkungan selama tersedia makanan, minuman, dan tempat berlindung. Sisa makanan yang tidak segera dibersihkan, tempat sampah terbuka, tumpukan kardus, barang bekas, serta saluran pembuangan atau sudut rumah yang lembap merupakan daya tarik bagi tikus. 
“Kalau kita menemukan tikus, jangan hanya bertanya, dari mana tikus itu datang? Kita juga perlu bertanya, apa yang membuat tempat ini menarik bagi tikus?” Ujar Dr. Raka Pratama, seorang ahli lingkungan dalam wawancara ilustratif untuk artikel ini. Pertanyaan sederhana tersebut mengubah cara pandang kita, bahwa tikus bukan sekadar masalah yang harus diusir, tetapi juga sebuah pengingat bahwa ada bagian dari lingkungan kita yang perlu diperbaiki.
 
Kebersihan Bukan Sekadar agar Rumah Terlihat Rapi
Bagi sebagian orang, membersihkan rumah hanya dianggap sebagai pekerjaan rutin: menyapu, mengepel, membuang sampah, dan merapikan barang, padahal kebersihan memiliki makna yang lebih dalam. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 222, Allah menyatakan bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Pesan tentang kesucian ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk membangun kebiasaan hidup bersih, baik dalam menjaga diri maupun lingkungan sekitar.
Karenanya, kebersihan hanya soal penampilan, melainkan bagian dari gaya hidup yang mencerminkan kepedulian, kedisiplinan, dan rasa syukur atas tempat tinggal yang Allah berikan. Anak-anak pun dapat memulainya dari hal sederhana: membuang sampah pada tempatnya, membersihkan sisa makanan setelah makan, serta membantu merapikan rumah dan ruang kelas.
 
Merusak Lingkungan, Jangan Jadikan Kebiasaan
Ada satu pesan penting lainnya dalam QS. Al-A'raf ayat 56, yaitu larangan membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Ayat ini mengingatkan kita bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk ditempati. Lingkungan adalah amanah yang perlu dijaga. Membuang sampah sembarangan mungkin terlihat remeh, namun jika dilakukan banyak orang dan terus-menerus, dampaknya luar biasa. Sampah dapat menyumbat saluran air, mencemari lingkungan, menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai organisme pengganggu, dan menarik hewan seperti tikus. Karena itu, menjaga kebersihan merupakan salah satu bentuk sederhana dari upaya menjaga bumi dari kerusakan.
 
Anak Belajar, Orang Tua Memberi Teladan
Kebiasaan menjaga kebersihan paling mudah ditumbuhkan saat anak melihat contoh nyata dari orang dewasa, misalnya oang tua mengajak anak memilah sampah, menyimpan makanan dengan baik, menutup tempat sampah, dan membersihkan meja setelah makan. Guru mengajak siswa melakukan kegiatan kebersihan kelas sekaligus menjelaskan mengapa lingkungan yang bersih penting bagi kesehatan.
“Anak-anak tidak cukup hanya diberi tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah. Mereka perlu melihat bahwa orang dewasa di sekitarnya juga melakukan hal yang sama: menjaga kebersihan dengan konsisten,” ungkap Dr. Raka. Keteladanan akan menjadi sebuah habit yang manfaatnya dapat dipahami dan dirasakan, maka menjaga kebersihan bukan lagi sebuah hukuman atau kewajiban yang membosankan.
 
Dari Tikus, Kita Belajar
Boleh jadi tikus bukanlah hewan yang kita sukai, namun keberadaannya adalah sebuah pengingat. Ketika tikus datang, kita perlu menengok kembali lingkungan kita. Apakah masih ada makanan yang tercecer? Apakah tempat sampah terbuka? Apakah ada tumpukan barang yang tidak terpakai? Apakah ada saluran atau sudut rumah yang perlu dibersihkan? Dari sana, kita belajar bahwa kebersihan bukan hanya tentang mengusir sesuatu yang dianggap mengganggu. Kebersihan adalah upaya menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman, dan penuh tanggung jawab.
Pesan sederhana dari tulisan ini adalah jangan menunggu tikus datang untuk mulai peduli pada kebersihan. Mari mulai dari satu tindakan sederhana hari ini: membuang satu sampah pada tempatnya, membersihkan sisa makanan, atau merapikan sudut rumah, sebab menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan. Menjaga bumi adalah tanggung jawab kita bersama.
 

Baca Dokumen

Silakan klik atau geser untuk membalik halaman.

Unduh