Crypto casino en ligne : aperçu et options

Bahwa Tangan Mereka yang Kelak Menarik Kita ke Surga

Oleh: Anikmah, S.Sos., M.Pd.

 

Ada lelah yang tak biasa, karena yang dihadapi guru memang luar biasa, yaitu siswa, di mana guru berkutat pada hati dan pikiran. Guru adalah pilar bangsa yang berperan penting mencetak generasi negeri ini. Demi memenuhi kebutuhan pendidikan yang terus berubah seiring perkembangan zaman, kompetensi guru menjadi tantangan. Seiring itu pula, kesejahteraan guru masih menjadi dilema, di mana cinta pada siswa dan kebutuhan hidup sehari-hari berbicara berlawanan.

 

Artikel ini adalah bercerita tentang perjalanan guru tentang Lelah, pengadian, dan tantangan.

 

 

 

Ada Lelah yang Tidak Sia-sia

Seorang ulama besar asal Rembang, KH Maimoen Zubair pernah mengungkapkan, “ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya. Namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita ke surga”.

Kata-kata ini bisa jadi penyemangat saat guru berada pada titik lelah: bahwa ada tugas administrasi yang harus dituntaskan, ada materi pengajaran yang harus disiapkan, ada inovasi yang harus dikembangkan, ada kesalahan yang harus dikoreksi, ada ilmu yang harus terus diperbaiki, dan ada masalah pribadi yang harus dikesampingkan.

Guru memiliki lelah yang berbeda, bukan lelah yang dimiliki orang kebanyakan, karena guru berkutat pada hati dan pikiran anak, mengisinya dengan adab, ilmu dan pengetahuan, dan lantas menjadikannya bermakna, berguna, dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga, agama, dan bangsa.

 

Mereka Anak Kita Jua

Di sudut sana, ada anak-anak yang harus didengarkan ceritanya, diredam amarahnya, dihibur sedihnya, diredakan tangisnya, dilembutkan hatinya, diimbangi guraunya, dimaafkan salahnya, diluruskan langkahnya, dinasihati nakalnya, dimantapkan bimbangnya, di arahkan keputusannya, dan dibangun mimpinya.

Sejenak, kita lupa bahwa ini adalah bagian dari pekerjaan. Sesaat saja kita jumpa mereka. Ada saat  di mana mereka kembali ke rumah, tempat mereka bertumbuh bersama ayah dan ibu.

Tapi yang sesaat itu justru bermakna. Anak-anak didik kita di sekolah adalah jua anak-anak kita.

 

Mengajar dan Mendengarkan di Waktu yang Bersamaan

Sebelum masuk kelas, guru berkutat menyiapkan kebutuhan: materi, media, peraga, teknik, administrasi, dan mental.

Saat sudah di dalam kelas, dengan semangat yang tak boleh padam, guru memberikan pengajaran terbaik. Di tengah perjalanannya, guru terhenti. Ada moment yang menyela, yaitu sebuah aduan sepele menyita perhatian atau sekedar curhatan ringan dari anak yang biasanya dan kadang pula dari anak yang tak biasa. Sering pula, sebuah peristiwa yang mengagetkan dan tiba-tiba.  Namun guru tetap menjalankan tugasnya. Pembelajaran hari ini harus tuntas dan mengena.

Mengajar sambil mendengarkan celoteh anak-anak itu sudah biasa, karena guru memang membangun hati dan pengetahuan.

 

Guru adalah Pembelajar Sepanjang Hayat

Rasulullah bersabda, “siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR Muslim)

Dalam sebuah kata mutiara Arab juga banyak dituliskan tentang himbauan mencari ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat.

OECD (2024) merumuskan belajar sepanjang hayat ke dalam tiga aspek penting yang disebut the triangle of lifelong learning, antara lain memahami strategi belajar yang efektif, tetap semangat belajar, dan percaya diri untuk tumbuh  sesuai kemampuan dan kapasitas.

Longworth & Davies (1996) memaknai lifelong learning sebagai pengembangan potensi manusia melalui proses yang terus menerus yang merangsang dan memberdayakan individu untuk memperoleh semua pengetahuan, nilai, keterampilan, dan pemahaman sepanjang hidup mereka dan menerapkannya secara percaya diri dan kreatif dalam semua peran, keadaan, dan lingkungan.

Memaknai beberapa konsep tersebut di atas bahwa pembelajar sepanjang hayat adalah mereka yang tidak pernah berhenti bertumbuh dengan ilmu pengetahuan: terus mengasah kognisi dengan ilmu, mengembangkan skill dengan latihan, menumbuhkan kepercayaan diri dengan keberanian, dan memperbaiki diri dengan pengalaman. Terus menerus, selamanya, sepanjang hayat. Dan itu selayaknya dimiliki oleh guru.

 

Guru sebagai Pilar Pendidikan

Karena guru punya peran besar, yaitu sebagai pilar pendidikan. Guru bisa menjadi contoh nyata bagi anak didiknya bahwa proses belajar tidak berhenti hanya di bangku sekolah. Guru seyogyanya adaptif dengan perubahan dan bergerak maju selaras dengan kebutuhan (Firstlyta Bulan A.A., 2025).

Sejarah mencatat bahwa zaman tidak pernah berkutat pada satu titik. Pola pikir manusia terus berubah yang kemudian berkontribusi aktif pada pertumbuhan pesat di bidang teknologi dan turut merubah tatanan sosial dan budaya. Dunia pendidikan tentu masuk di dalamnya, di mana pribadi dan kualitas pribadi setiap individu dibentuk salah satunya di bangku sekolah. Jika kualitas pendidikan buruk, maka buruk pula produk yang dihasilkan. Dari mana kualitas pendidikan bisa diperbaiki? Tentu dengan memperbaiki elemen di dalamnya, salah satu di antaranya adalah guru. Penelitian empiris yang dilakukan van de Grift (2014) menunjukkan bahwa 15-25 persen hasil belajar siswa bergantung pada kualitas guru mengajar (dalam Siti Nurul A., 2025).

Kualitas seorang guru tentu bergantung besar pada kemampuannya secara personal dan profesional, yaitu bagaimana ia mentransfer ilmu di kelas, bagaimana ia memberi nasihat, serta bagaimana ia bertutur, bersikap, dan berperilaku sehari-hari. Sebagai orang tua kedua di sekolah, guru adalah role model bagi anak didiknya.

Guru adalah amanah di mana segala kebaikan bermula. Guru adalah pencetak  generasi dan guru adalah sebuah pekerjaan yang amalannya tidak pernah putus sampai nanti. Sabda Rasulullah Saw., “sesungguhnya Allah, para malaikat serta seluruh penduduk langit dan bumi sampai kiranya semut di dalam sarangnya dan ikan di lautan, mereka semua bershalawat (mendo’akan) kepada orang yang mengajari manusia kebaikan“.  (HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-AlBani).

 

Guru Serba Bisa

Apakah Anda seorang guru yang hanya berkutat pada kapur tulis dan papan dan sepanjang hari duduk di balik meja?

Kiranya sekarang saatnya berbenah. Saat ini, kita sedang menjalani hidup di mana manusia dituntut untuk bergerak cepat menyesuaikan diri dengan perubahan. Kita sedang berada pada masa di mana teknologi dan AI sangat merajalela. Pada titik tertentu, AI bahkan jauh lebih pandai dari pada kita.

Diam tentu bukan solusi, malu seperti bunuh diri, dan pasrah bukan harga mati. Kata kuncinya adalah berubah.

Era kita sekarang menuntut guru serba bisa, yaitu bisa menguasai materi, bisa menerapkan strategi, bisa menggunakan teknologi, bisa menghadapi siswa, bisa berseni, dan bisa menyelesaikan administrasi. Tidak main-main, karena yang kita hadapi adalah sosok hidup yang kita bangun pengetahuannya dan kita cetak kepribadiannya, yang pada skala kecil berpengaruh pada kehidupannya jauh ke depan, dan pada skala besar berpengaruh pada kehidupan bangsanya.

NAsihat Ali bin Abi Thalib, “didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu”.

Ada hak anak yang musti kita jaga. Mereka layak memperoleh yang seharusnya. Tidak hanya demi kebaikan mereka di masa datang, tapi memang mereka harus menerima. Jika kualitas kita memang pantas, maka hak yang diterima anak-anak juga pantas.

 

Kesejahteraan yang Masih Jadi Soal

Kata sejahtera, secara harfiah dalam KBBI bermakna aman sentosa dan makmur. Kata kunci ini terpenuhi apabila takaran finansial seseorang sesuai menurut standar kebutuhan sehari-hari.

Dalam laporan Kemendikbudristek tahun 2023 menyebutkan bahwa gaji guru honorer di beberapa daerah bahkan tidak mencapai Rp 1juta per bulan (Annas Solihin, 2024).

Jika menilik lebih jauh, di lingkungan sekitar yang sering kita jumpai, tak sedikit guru yang meluangkan energinya untuk memperoleh penghasilan tambahan dengan berjualan makanan, keliling jasa ojek, mengajar privat, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya di luar tugas keguruan.

Apakah ini salah? Tentu tidak. Tapi hal ini menunjukkan ada yang timpang antara waktu yang dibutuhkan guru di sekolah, tugas yang layak dan pantas yang harus diselesaikan, dengan kemampuan finansialnya, sedangkan memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah hal yang mutlak. Di situlah guru menemui dilema bahwa tugas harus dituntaskan secara profesional, namun kondisi keuangan bicara berbeda. Mencerdaskan anak bangsa itu mulia, mengajar dengan baik dan benar itu kewajiban, namun jika realita bicara berbeda, guru pun bingung harus bagaimana.

 

Mengabdi tanpa Pamrih

Guru kerap kali merelakan energinya sebagai sebuah pengabdian, di mana tugas tetap diselesaikan, meski gaji yang diterima tak seberapa.

Barangkali kita adalah guru yang beruntung. Tapi jauh di sana, di sudut lain negeri ini, ada banyak sekali guru yang masih mengayuh sepedanya jauh sekali untuk mencapai sekolah, bahkan banyak yang mesih berjalan kaki. Ada pula yang harus menyeberangi rawa, sungai, dan danau. Bicara gaji soal nanti, yang terpenting bagi mereka adalah siswa. Cinta mereka kepada anak didik jauh lebih kuat melampaui kekuatan finansial mereka sendiri.

Tantangan teknologi tentu ada, namun cinta mereka yang besar pada profesi sebagai guru itu seolah bisa mengalahkan apa pun.

 

Penutup

Jika kata adalah doa, maka yang diungkapkan KH Maimoen Zubair adalah juga doa. Sekiranya tidak ada amalan kita yang pantas untuk kita memperoleh surga, barangkali salah satu tangan mungil anak didik kita yang kelak akan menarik kita ke sana.

Maka tugas guru sungguh teramat mulia. Lelah bagaimanapun, sirna. Tugas berat seperti apa pun, tuntas. Tantangan sulit yang tak biasa pun, menjadi mudah.

Kita semua tentu berharap bahwa wajah pendidikan negeri ini menjadi lebih baik: kualitas guru-gurunya secara profesional baik dan kesejahteraannya terjamin, sehingga output yang dihasilkan pun baik. Tidak hanya di satu daerah, namun merata di seluruh negeri.

Jika kompetensi guru masih jadi soal, kiranya pemerintah bisa melakukan tes berkala setiap tahun, terutama untuk guru yang sudah bersertifikasi. Kami guru siap menjalani, demi kebaikan negeri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get 30% off your first purchase

X
Scroll to Top