AL ASHR
Kembali ke Direktori
Tema Bulan Ini Environment

Seekor Tikus dan Sebuah Pelajaran dari Gang Kecil

Sep-Okt 2026 (Edisi 02)

Yantik Ratna Sari, S.Pd. (Guru Kelas 6A)

Terbit: 08 Okt 2026 โ€ข 24 tayangan

Seekor Tikus dan Sebuah Pelajaran dari Gang Kecil
โ€œAsytaghfirullah!โ€ Aku spontan mengangkat kaki. Bukan karena hampir jatuh dari motor, tetapi karena seekor tikus tiba-tiba berlari ke arahku. Sore itu aku sedang menuntun motor masuk ke gang rumah di Demak Jaya, Surabaya. Aku kira tikus itu akan menyeberang dan menghindariku. Ternyata tidak. Ia justru berlari lurus, melewati kakiku, lalu menghilang begitu saja.

Aku masih terdiam beberapa saat, โ€œya Allah, sekarang tikus kok berani sekali?โ€ kataku dalam hati. Yang membuatku heran, tikus itu sama sekali tidak tampak takut kepada manusia. Aku pun pernah melihat kucing berhadapan dengan tikus. Aku kira kucing akan mengejarnya, ternyata si kucing justru mundur. Aku pun tersenyum. โ€œItu tikus atau preman kampung?โ€ gumamku.

Di balik kejadian yang menggelikan itu, muncul pertanyaan: Mengapa tikus semakin nyaman berada di sekitar kita? Jawabannya tentu ada pada kondisi lingkungan kita sendiri, di mana ada sisa makanan tergeletak di jalanan, ada tempat sampah yang isinya sudah membusuk, ada saluran air yang bau menyengat, ada barang-barang tak terpakai yang menumpuk, dan ada sudut-sudut lembap dan gelap yang menyesakkan.

Bagi kita mungkin itu hal biasa. Bagi tikus, itu adalah tempat tinggal yang sempurna. Di situlah makanan, air, dan sekaligus tempat berlindung mereka peroleh. Jadi, bukan tikus yang semakin pemberani, tapi kesalahan ada pada kita yang salah mengelolah lingkungan. Kita yang tanpa sadar membuat mereka semakin nyaman. Aku kemudian teringat dengan firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
 
ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ุงู„ู’ููŽุณูŽุงุฏู ููู‰ ุงู„ู’ุจูŽุฑู‘ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ุจูู…ูŽุง ูƒูŽุณูŽุจูŽุชู’ ุงูŽูŠู’ุฏูู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ููŠูุฐููŠู’ู‚ูŽู‡ูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ุนูŽู…ูู„ููˆู’ุง ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนููˆู’ู†ูŽ
โ€œTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)โ€.
 
Ayat ini membuatku merenung; apa yang kita buang, apa yang kita biarkan, dan apa yang kita abaikan, semuanya bisa meninggalkan akibat bagi lingkungan. Sementara kita kerap bertanya, โ€œbagaimana mengusir tikus?โ€ Padahal pertanyaannya bisa diubah menjadi, โ€œmengapa tikus datang?โ€ Karena jika penyebabnya tidak dibenahi, tikus yang satu dibasmi, yang lain akan datang.

Sebuah teladan dari Rasulullah ๏ทบ dalam sebuah hadis juga mengajarkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan bagian dari iman. Betapa indahnya ajaran itu. Islam tidak hanya mengajarkan kita tentang hubungan dengan Allah, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap ruang yang digunakan bersama. Bahwa jalan di depan rumah bukan hanya milik kita dan gang di kampung bukan hanya milik satu keluarga. Lingkungan adalah rumah bersama. Maka, mengambil sampah yang mengganggu, menjaga saluran air, tidak membuang sisa makanan sembarangan, dan menjaga kebersihan lingkungan adalah tugas bersama, penghuni ruang tersebut. 

Di sana seharusanya kepedulian dan tanggung jawab ada, karena di sana ada bagian dari iman. Sebagai seorang guru, pengalaman sederhana ini juga membuatku berpikir tentang himbauan kita ke anak-anak, โ€œbuanglah sampah pada tempatnya!โ€ Kita lupa mengajarkan mengapa itu harus dilakukan. Satu bungkus makanan yang dibuang sembarangan mungkin terlihat sepele, namun dari dari yang kecil itulah masalah bermula dan tumbuh. Karena itu, menjaga lingkungan bersih bukan sekadar membuat tempat terlihat bersih, namun lebih pada menjaga yang Allah titipkan kepada kita.

Bagaimanapun, seekor tikus telah mengajarkanku hal yang bermakna. Masalah lingkungan di mana tikus menyukainyaโ€”tidak datang begitu saja, melainkan kita yang turut andil menyediakan tempat untuknya. Maka, sebelum kita sibuk mengusir tikus, mari kita lihat sekeliling: sudahkah kita menutup tempat sampah? Sudahkah kita membereskan sisa makanan? 
 Sudahkah kita menjaga saluran air? Sudahkah kita peduli pada jalan dan lingkungan yang digunakan bersama? Sebab tikus sejatinya hanya sedang mencari makan dan tempat bernaung. Kitalah yang menentukan apakah lingkungan kita akan menjadi tempat yang nyaman bagi mereka. 

Dan aku tentu berharap, pertemuan berikutnya dengan tikus tidak sedekat yang pertama.  Cukup melewati gang, tidak perlu melewati kakiku lagi. Sekarang, setiap kali menuntun motor masuk gang dan melihat sesuatu yang bergerak cepat, aku otomatis waspada, jangan-jangan ada tikus lagi. Perasaan geli itu serasa masih kerasa sampai hari ini. 

Dari seekor tikus, kita belajar satu hal sederhana: menjaga lingkungan bukan menunggu masalah datang, tetapi mencegahnya sejak kita mampu.

Baca Dokumen

Silakan klik atau geser untuk membalik halaman.

Unduh