AL ASHR
Kembali ke Direktori
Tema Bulan Ini Environment

Tikus dan Pelajaran Hidup tentang Memilih Lingkungan

Sep-Okt 2026 (Episode 02)

Nurul Hidayah, S.Pd. (Guru Kelas 3C dan Waka Sarpras)

Terbit: 12 Okt 2026 • 17 tayangan

Tikus dan Pelajaran Hidup tentang Memilih Lingkungan
 Pernahkah kita bertanya, mengapa tikus selalu ditemukan di tempat yang kotor? Kebiasaan yang kita temui setiap hari, tikus sering berada di balik tumpukan sampah, di balik kardus yang sudah lama tidak digunakan, di dalam selokan yang lembap, atau di sudut-sudut rumah yang jarang tersentuh sapu. Jawabannya mungkin sederhana, karena tikus suka tempat kotor. Benarkah? Jawabannya tidak sesederhana itu. Tikus tidak datang karena ia menyukai kotoran, tapi ia datang karena di situlah ia menemukan yang ia butuhkan, yaitu makan, minum, dan tempat tinggal. Jika pertanyaan itu ditujukan ke kita: apakah manusia juga demikian? 

Seekor tikus yang lari kesana kemari dan kemudian masuk ke tempat penuh dengan sampah, ia berharap akan menemukan sisa-sisa makanan, air, dan tempat yang aman untuk bersembunyi. Hari demi hari, ia ulang secara terus menerus. Lama-kelamaan, tempat yang awalnya hanya menjadi tempat mencari makan berubah menjadi tempat tinggal. Yang lebih menarik, tikus tidak lagi merasa perlu mencari tempat lain. Mengapa? Karena di situ ia sudah menemukan apa yang dibutuhkan. Kenyamanan membuatnya bertahan dan kebiasaan membuatnya menetap. 

Bagaimana dengan kita? Manusia tentu sangatlah berbeda dengan tikus. Namun, ada satu hal yang mungkin sama, yaitu kita menjadi terbiasa dengan lingkungan yang terus-menerus kita hadapi. Seorang anak yang terbiasa mendengar kata-kata kasar dapat menganggap kata-kata itu sebagai sesuatu yang biasa. Seseorang yang tumbuh di lingkungan yang penuh amarah dapat menganggap bahwasanya amarah merupakan hal yang normal. Seseorang yang selalu berada di antara orang-orang yang gemar merendahkan orang lain dapat perlahan-lahan melakukan hal yang sama. Bukan karena sejak awal ia ingin menjadi seperti itu, tetapi karena sesuatu yang terjadi berulang-ulang dapat berubah menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang terus melekat dapat membentuk karakter manusia.
 
Lingkungan tidak selalu menentukan siapa kita, tetapi lingkungan dapat mengubah dan membentuk siapa diri kita. Mari kita merenung sejenak. Untuk menjadi manusia yang sesuai dengan kepribadian, tidak perlu melihat dan tidak perlu meniru orang lain. Apakah ada tempat kotor dalam kehidupan kita? Mungkin bukan tempat yang dipenuhi sampah, namun kebiasaan buruk yang terus kita pelihara. Mungkin berupa lingkungan pertemanan yang membuat kita semakin jauh dari kebaikan, seperti kebiasaan menyalahkan orang lain atau pikiran-pikiran negatif yang setiap hari kita biarkan memenuhi kepala. 

Manusia memiliki keistimewaan yang tiada tara dan  bebas memilih. Berbeda dengan tikus. Itulah yang membedakan manusia dengan seekor tikus. Tikus akan bertahan hidup sesuai dengan nalurinya, sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dalam menjalankan aktivitasnya. 

Kita tidak dapat memilih di mana dilahirkan, tidak dapat memilih keluarga kita tumbuh, juga tidak dapat mengubah keadaan di sekitar kita sesuai dengan keinginan, namun kita dapat memilih dan bertahan untuk merespons keadaan tersebut. Kita dapat memilih untuk belajar, kita dapat memilih untuk memperbaiki diri, kita dapat memilih siapa yang akan menjadi teman, dan ketika menyadari bahwa lingkungan kita tidak sehat, kita dapat memilih mencari lingkungan yang lebih baik. 

Ada sebuah pelajaran menarik dari keberadaan tikus. Ketika kita membiarkan sampah menumpuk, kita sebenarnya sedang menciptakan tempat yang menyediakan makanan dan perlindungan bagi tikus. Begitu pula kehidupan manusia. Ketika kita membiarkan kebiasaan buruk menumpuk, kebiasaan itu dapat menjadi rumah bagi masalah-masalah baru, misalnya satu kebohongan dapat melahirkan kebohongan berikutnya, kebiasaan berkata kasar dapat melukai orang lain dan merusak hubungan, dan lingkungan yang buruk dapat memengaruhi cara kita berpikir. Karena itu, membersihkan lingkungan bukan hanya tentang mengambil sampah dari halaman. Kita juga perlu membersihkan sampah yang menumpuk dalam diri kita. 

Lingkungan adalah tempat makhluk hidup tumbuh, berkembang, dan menjalani kehidupan. Lingkungan yang bersih dapat memberikan rasa nyaman. Lingkungan yang sehat dapat mendukung kehidupan. Lingkungan yang baik dapat membantu seseorang berkembang menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang tidak terawat dapat menimbulkan berbagai masalah. Itulah sebabnya menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan, bukan hanya tugas guru, dan bukan hanya tugas orang tua. Menjaga lingkungan adalah tugas setiap manusia. Dimulai dari hal yang paling sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan tempat tinggal, tidak membiarkan sisa makanan berserakan, menanam dan merawat tumbuhan, serta menjaga lingkungan sosial agar dipenuhi dengan sikap saling menghargai. 

Jadi, mengapa tikus hidup di tempat yang kotor? Sekarang kita sudah mengetahui jawabannya: karena di tempat itu tersedia sesuatu yang dibutuhkan tikus untuk bertahan hidup. Tetapi di balik pertanyaan itu, tersimpan pertanyaan lain: kalau manusia tinggal di lingkungan yang buruk, apakah ia akan menjadi buruk juga? Jawabannya tidak selalu demikian. Seseorang mungkin berasal dari lingkungan yang tidak baik, tetapi ia dapat memilih menjadi pribadi yang baik. Seseorang mungkin pernah memiliki kebiasaan buruk, tetapi ia dapat  meninggalkannya. Seseorang mungkin pernah berada di tempat yang penuh kegelapan, tetapi ia dapat mencari jalan menuju cahaya, karena manusia bukan sekadar hasil dari lingkungan. Manusia juga memiliki kemampuan untuk mengubah dirinya dan lingkungannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar ra’d ayat 11. 
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ​ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ​ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ          ‏ 
Artinya: 
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” 

Kita semua memiliki pilihan. selama ini kita melihat tikus dengan jijik, namun sebenarnya kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Tikus mengajarkan kita bahwa makhluk hidup akan mencari tempat yang menyediakan kebutuhan mereka. Termasuk manusia. Kita akan mencari tempat di mana kita merasa diterima, aman, dan nyaman. Tetapi tidak semua tempat yang membuat kita nyaman adalah tempat yang baik bagi kita. Karena itu, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah tempat yang membuatku nyaman juga membuatku bertumbuh? Jika jawabannya tidak, maka sudah waktunya kita bergerak untuk membersihkan lingkungan, merubah kebiasaan, mengganti pergaulan, membersihkan pikiran dan memulai kembali hal baru. Sebab lingkungan yang baik tidak datang dengan sendirinya. Kita harus menciptakannya. 

Pertanyaan mengapa tikus hidup di tempat yang kotor? Bukan lagi tentang tikus. Pertanyaan itu adalah tentang kita: tentang tempat yang kita pilih, kebiasaan yang kita pelihara, dan lingkungan yang kita ciptakan. Satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan kepada diri sendiri: aku sedang tinggal di lingkungan yang membuatku bertahan atau lingkungan yang membuatku bertumbuh? Karena hidup bukan hanya tentang menemukan tempat untuk tinggal, tetapi hidup juga tentang memilih tempat yang membuat kita menjadi lebih baik. 

Baca Dokumen

Silakan klik atau geser untuk membalik halaman.

Unduh