Pagi itu Sabtu, 29 Agustus 2026. SD Al Muttaqien dan Putri Lingkungan Hidup (LH) 2026 Naladhipa Alula Akselia Wilda, turut mewakili kegiatan bersih-bersih pantai dalam gerakan Eco School yang melibatkan siswa-siswi SD dan SMP se-Kota Surabaya. Dengan sarung tangan, kantong sampah, dan semangat yang tak kalah besar dari luasnya garis pantai, para siswa turun langsung memungut sampah yang berserakan.
Pantai bukan sekadar tempat menikmati debur ombak. Ia berubah menjadi ruang belajar yang nyata tempat anak-anak Surabaya memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya sebuah nasihat yang tertulis di buku, tetapi sebuah tindakan yang harus dilakukan bersama.
Di tengah aktivitas itu, ada pelajaran sederhana namun bermakna: Satu sampah yang kita buang sembarangan mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya menjadi besar. Begitu pula sebaliknya, satu tindakan kecil untuk menjaga lingkungan dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
“Kegiatan seperti ini menurut saya memiliki nilai pendidikan yang jauh melampaui kegiatan bersih-bersih. Anak-anak tidak hanya diajak melihat persoalan lingkungan, tetapi juga dilatih untuk mengambil peran di dalamnya.” Ujar Pak Dayat
Mereka belajar tentang kepedulian, tanggung jawab, kerja sama, disiplin, sekaligus membangun kesadaran bahwa alam bukan sesuatu yang bisa terus-menerus digunakan tanpa dijaga.
Lebih menarik lagi, kegiatan ini mempertemukan siswa dari berbagai jenjang sekolah di Kota Surabaya. Anak SD dan SMP berdiri dalam satu barisan, melakukan pekerjaan yang sama, dan memiliki tujuan yang sama: membuat pantai menjadi lebih bersih.
Dari sini kita dapat melihat bahwa pendidikan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada slogan “cinta lingkungan”. Cinta lingkungan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan: memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, merawat tanaman, hingga berani mengambil tindakan ketika melihat lingkungan yang membutuhkan perhatian.
Bagi SD Al Muttaqien, keterlibatan dalam kegiatan Eco School ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan karakter siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kepedulian dan kemauan untuk berbuat. Sebab, anak-anak hari ini adalah generasi yang akan hidup bersama dampak dari keputusan yang kita ambil hari ini.
Mungkin mereka belum mampu menyelesaikan persoalan sampah di seluruh pantai Surabaya. Namun, ketika tangan-tangan kecil itu mulai memungut satu demi satu sampah di tepian pantai, sesungguhnya mereka sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa perubahan selalu dimulai dari kepedulian, dan kepedulian akan menjadi berarti ketika diwujudkan dalam tindakan.
Pantai yang bersih mungkin menjadi hasil yang terlihat hari itu. Tetapi yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran di dalam diri anak-anak bahwa bumi adalah rumah bersama. Menjaga pantai hari ini, berarti sedang menanam harapan untuk masa depan.